Masalah Keterlambatan Penerbangan Pesawat (Bab II)

Image

Bab II

Analisa Kasus

            Penyebab kasus matinya AC pesawat Lion Air adalah adanya masalah pada mesin ground power nya. Ground power ini berfungsi untuk melayani pesawat terbang sebelum keberangkatan maupun pada saat tiba di darat. Fungsi umum dari alat ini adalah ground power operations, aircraft mobility, dan loading operations (penumpang dan barang). Hal ini sudah diketahui oleh maskapai Lion Air sehari sebelum penerbangan, namun mereka tetap menerbangkan pesawat Lion Air JT 775 pada 30 September 2013 lalu.[1] Akibatnya, pesawat Lion Air JT 775 mengalami delay dan AC nya mati. Selain itu, penumpang juga harus menunggu selama 7 jam. Awalnya mereka menunggu selama 1 jam didalam pesawat dalam keadaan AC mati. Namun, karena mereka tidak tahan dengan panasnya keadaan di dalam pesawat, maka penumpang mendobrak pintu darurat supaya dapat keluar. Namun, setelah penumpang berhasil keluar dari pesawat itu, mereka malah dimarahi oleh petugas Lion Air, dengan alasan mereka telah membuka paksa pintu pesawat. Akibat dari kejadian ini, pesawat mengalami penundaan keberangkatan selama 7 jam. Penumpang juga menjadi sesak napas karena terbatasnya udara di dalam pesawat. [2]

Pola hidup masyarakat yang sering tidak tepat waktu. Hal ini dapat berpengaruh terhadap delay penerbangan. Selain itu, pola masyarakat yang selalu bertindak tanpa terpikir terlebih dahulu  juga memicu adanya konflik ini. Apabila penumpang membuka pintu belakang pesawat, bukan pintu darurat, maka mungkin mereka tidak akan dimarahi oleh petugas. Sebaliknya, bagi pihak Lion pun juga begitu. Jika pramugari memberi kejelasan pada penumpang dan tidak hanya memberikkan tissue pada penumpang saat penumpang protes, mungkin tidak akan terjadi pendobrakan pintu darurat pesawat.

            Ada gejala disorganisasi dalam konflik tersebut, terlihat dari adanya pertikaian dari penumpang dan pihak Lion Air. Pertikaian ini memicu adanya konflik antara kelompok dengan kelompok. Yaitu kelompok penumpang dan kelompok petugas. Kemungkinan terburuk dari adanya pertikaian ini adalah adanya penumpang yang membatalkan keberangkatannya dan tidak percaya lagi sepenuhnya pada Lion Air.

HAM adalah hak dasar yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa Hak Asasi Manusia dalam pengertian hukum, tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri, bahkan tidak dapat dicabut oleh suatu kekuasaan atau oleh sebab-sebab lainnya, karena manusia dapat kehilangan martabatnya. HAM dalam definisi ajaran Gereja Katholik adalah hak-hak asasi merupakan hak yang universal, artinya hak-hak itu menyangkut semua orang, berlaku dan harus diberlakukan di mana-mana. Hal yang menunjang HAM antara lain penumpang diberikan pesawat pengganti yang lebih layak sesuai tujuan yaitu ke Jakarta meskipun penumpang harus menunggu selama 7 jam untuk pesawat pengganti itu. Sementara itu, hal yang tidak menunjang HAM yaitu tidak memperoleh kenyamanan menikmati fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka telah membayar tiket untuk bisa menikmati fasilitas penerbangan yang ada. Baik dari pelayanan pramugari/pramugara, ketepatan keberangkatan, asuransi, dll. Namun nyatanya, penumpang tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari maskapai Lion Air. Penumpang telah menanyakan pada petugas, namun petugas tidak menanggapinya. Dalam UUD 1945 pasal 28F, dikatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh informasi, namun nyatanya, penumpang tidak mendapatkan informasi yang jelas. [3]

             Akibat dari adanya konflik ini, penumpang mengalami sesak napas dan penerbangannya tertunda. Saat mereka memprotes pun, mereka malah dimarahi oleh petugas karena mendobrak pintunya. Padahal, mendobrak pintu merupakan jalan alternatif saat itu. Mereka sudah memprotes pada petugas, tapi mereka malah diabaikan. Sementara, akibat bagi Lion Air, adalah hilangnya atau berkurangnya kepercayaan masyarakat dengan pesawat Lion Air. Lion Air kehilangan nama baik nya

Konflik keterlambatan penerbangan ini dikendalikan atau diatasi dengan cara konsilasi yaitu dengan cara keputusan yang diambil oleh pihak Lion Air, dengan menerbangkan para penumpang yang dikecewakan ini dengan pesawat yang lainya, tetapi tetap pesawat Lion Air.                                                

Pihak Lion Air sangat berperan dalam penyelesaian masalah ini. Keputusan untuk mengganti rugi dan menerbangkan para penumpang menuju tujuannya, yaitu Jakarta. Dalam masalah penerbangan ini, integrasi sosial terjadi. Pasti banyak orang yang berbeda ras, agama, dan budaya menaiki pesawat yang terlambat tersebut. Meskipun berbeda-beda, tapi mereka bersatu untuk memprotes, sampai mendobrak pintu darurat pesawat tersebut.  Hal yang mendorong integrasi dalam kasus ini adalah kesamaan tujuan dan kebutuhan. Para penumpang membutuhkan oksigen yang sama, para penumpang sama-sama kepanasan, jadi mereka bersatu karena kebutuhan yang sama.      Ada juga beberapa faktor yang menyebabkan integrasi sosial. Faktor-faktor tersebut ialah :

  1. Faktor Internal :
    1. Faktor individu
    2. Jiwa yang tidak berpikir dulu sebelum bertindak.
  2. Faktor Eksternal :
    1. Pemberian fasilitas yang tidak nyaman.
    2. Tidak ada konfirmasi dari pihak Lion.
    3. Tekanan waktu, kondisi saat itu yang panas menyebabkan sesak napas.

Kasus ini akan dikatakan adil, apabila penumpang sudah mendapatkan hak nya untuk terbang sesuai jadwal yang ditentukkan. Jika pihak Lion Air tahu bahwa AC pesawat Lion Air JT 775 rusak, harusnya mereka tidak menerbangkan pesawat tersebut dan tidak membiarkan penumpang dalam pesawat selama 1 jam, karena hal itu sangat fatal bagi penumpang. Udara di dalam pesawat menjadi minim, dan penumpang akan mengalami sesak napas. Masalah ini juga akan dikatakan adil apabila pihak Lion Air menerima amarah penumpang, dan menerbangkan penumpang ke Jakarta dalam waktu cepat, bukan malah membuat penumpang menunggu hingga 7 jam.

Direktur utama Lion Air, Edward Sirait menanggapi bahwa dia sangat menyayangkan, petugas tidak memeriksa posisi udara dalam kabin terlebih dahulu, seharusnya mereka memeriksa ada udara atau tidak dalam kabin. Atau mungkin ada cara lain untuk membuka pintu belakang sampai menguap baru memasukan penumpang”. Selain itu, pengamat penerbangan Alvin Lie juga menyayangkan kejadian tersebut.[4]

Keadilan yang ada di kejadian tersebut sesuai dengan teori keadilan menurut Prof Notonegoro dimana keadilan sesuai denga aturan hukum yang berlaku. Pihak Lion Air memberikan ganti rugi sebesar Rp 300.000 kepada penumpang sesuai yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011. Sementara menurut  kami, dalam kasus ini juga terjadi ketidak adilan yang tidak sesuai dengan teori Thomas Hobbes dimana sesuatu dikatakan adil bila sesuai dengan perjanjian-perjanjian tertentu. Penumpang tidak mendapatkan haknya untuk berangkat tepat waktu sesuai dengan jam keberangkatan yang dijanjikan di dalam tiket.

Keterlambatan pesawat bukan hanya terjadi sekali di Indonesia. Armada nya pun bukan hanyak Lion Air, namun ada juga beberapa armada yang sering delay. Namun, kejadian AC mati dan penumpang sudah berada di dalam pesawat dirasa merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes dimana keadilan sesuai dengan perjanjian. Penumpang tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikkan, sebaliknya mereka justru dirugikan baik dari segi waktu, tenaga,maupun materi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s