Masalah Keterlambatan Penerbangan Pesawat (Bab III)

Bab III

Kesimpulan

            Dalam kasus tersebut, keadilan tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Pertanggung jawaban dilakukan secara telambat sehingga penumpang tidak mendapatkan apa yang seharusnya didapatkan dalaam waktu yang seharusnya. Penumpang dirugikan dalam berbagai macam bentuk. Baik waktu, materi, dan lain sebagainya. Hal yang membuat adil yaitu penyelesaiannya dilakukan secara adil. Penumpang mendapat pesawat ganti dan mendapat uang ganti rugi sebesar Rp.300.000,- meskipun terlambat. Namun, ketidakadilan yang ada yaitu penumpang tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka dapatkan.

Menurut Mega, cara yang dapat dilakukan untuk menjunjung tinggi HAM yaitu akan mensosialisasikan HAM kepada teman. Menghormati orang lain sesuai dengan haknya. Tidak berlaku semena-mena pada orang lain, karena setiap orang memiliki hak masing-masing. Menurut Abraham Caranya adalah mempublikasikan HAM (Hak Asasi Manusia) lewat iklan yang ada di TV, Internet, Media social, dan lewat organisasi organisasi besar, contohnya RT/RW, Kantor, Tempat bekerja,dll. Selain itu juga diberikan aturan aturan yang memberikan sanksi/hukuman kepada siapa saja yang melanggar Hak Asasi Manusia. Menurut Rosabella sikap agar HAM dijunjung tinggi adalah saya harus menghormati orang lain, harus menjunjung tinggi martabat. Menurut Joshua, keterlambatan ini sangat melanggar HAM apalagi dengan kurangnya udara dalam pesawat dapat membunuh para penumpang. Seharusnya penegakkan HAM dapat dijunjung tinggi, apalagi ini juga isu soal profesionalitas pihak Lion Air. Agar HAM dalam kasus ini dapat dijunjung tinggi, pihak lembaga penerbangan Nasional harus menegaskan dan memperbaiki instansi Lion Air. Menurut Lynda, Hak asasi manusia adalah cara untuk hidup bersama. Kita semua harus mengikuti tapi bukan sebagai kewajiban tetapi sebagai bentuk hidup saya, tidak ada orang yang dilahirkan diskriminasi, budaya keluarga adalah apa yang membuatnya begitu. Sedangkan menurut Kevin Stevenson sikap untuk menjunjung tinggi HAM antara lain adalah dengan menjalankan segala perintah dalam HAM namun juga harus memperhatikan ajaran agama karena apabila saya menjalankan segala perintah HAM tanpa menyesuaikannya dengan hukum agama maka saya akan lebih seperti para penganut GZB (Gerakan Zaman Baru) yang menjalankan HAM namun mengabaikan fakta dosa yang membawa perpecahan dalam kehidupan bermasyarakat.

Apabila Abraham terpilih menjadi tokoh penyelesaian masalah, yang dapat saya lakukan untuk menyelesaikan masalah adalah Saya akan turun ke rakyat dan memantau langsung keadaan sekitar dan sya lakukan seperti yang ada di nomor 1. Menurut Mega, mengerti dahulu apa masalahnya, mengapa mereka berada pada konflik tersebut. Setelah itu, berpikir secara adil, mana yang salah dan mana yang benar. Jika mereka benar bilang benar, tapi kalau mereka salah bilang salah. Supaya mereka tahu apa kesalahannya. Joshua akan jadi instansi Lembaga Penerbangan Internasional, saya akan melatih dan membenahi seluruh institusi Lion air supaya tidak terjadi masalah seperti ini lgi. Saya akan melakukan hal yang sama untuk mengatasi masalah ini. Memberi ganti rugi dan menerbangkan ulang. Roosabella akan dapat saya lakukan untuk menyelesaikan masalah adalah melerainya dan memberikan solusi, karena dengan cara tersebut mungkin dapat menyelesaikan suatu masalah yang ada. menurut Lynda, Jika saya terpilih untuk memecahkan masalah pasti akan fokus pada promosi perdamaian dan penerimaan utama dari perbedaan, saya pikir jika semua manusia berkolaborasi dengan tindakan kecil dapat mengubah dunia, bukan dalam satu bulan atau satu tahun, merupakan proses yang lambat tetapi dapat dilakukan. Lain hal nya dengan Kevin Stevenson, dia akan mengadukan masalah tersebut kepada pihak yang berwajib, seperti Polri, lembaga pengadilan, KUA (Kantor Urusan Agama), dan sebagainya serta meminta agar masyarakat tidak panik dalam menghadapi masalah tersebut dan menjelaskan bagaimana masalah tersebut harus diselesaikan.

Kasus tersebut berkaitan dengan perintah Tuhan yang berbunyi “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” – Lukas, 10 : 27. Ayat ini sesuai dengan kasus ini, dimana kita harus mengasihi sesama manusia dan menghormati hak nya masing-masing. melanggar HAM itu berarti tidak mengasihi manusia. Melanggar HAM cenderung menyiksa manusia. Seperti tidak adanya oksigen, udara panas dalam pesawat melanggar HAM juga melanggar perintah Allah.

Advertisements

Masalah Keterlambatan Penerbangan Pesawat (Bab II)

Image

Bab II

Analisa Kasus

            Penyebab kasus matinya AC pesawat Lion Air adalah adanya masalah pada mesin ground power nya. Ground power ini berfungsi untuk melayani pesawat terbang sebelum keberangkatan maupun pada saat tiba di darat. Fungsi umum dari alat ini adalah ground power operations, aircraft mobility, dan loading operations (penumpang dan barang). Hal ini sudah diketahui oleh maskapai Lion Air sehari sebelum penerbangan, namun mereka tetap menerbangkan pesawat Lion Air JT 775 pada 30 September 2013 lalu.[1] Akibatnya, pesawat Lion Air JT 775 mengalami delay dan AC nya mati. Selain itu, penumpang juga harus menunggu selama 7 jam. Awalnya mereka menunggu selama 1 jam didalam pesawat dalam keadaan AC mati. Namun, karena mereka tidak tahan dengan panasnya keadaan di dalam pesawat, maka penumpang mendobrak pintu darurat supaya dapat keluar. Namun, setelah penumpang berhasil keluar dari pesawat itu, mereka malah dimarahi oleh petugas Lion Air, dengan alasan mereka telah membuka paksa pintu pesawat. Akibat dari kejadian ini, pesawat mengalami penundaan keberangkatan selama 7 jam. Penumpang juga menjadi sesak napas karena terbatasnya udara di dalam pesawat. [2]

Pola hidup masyarakat yang sering tidak tepat waktu. Hal ini dapat berpengaruh terhadap delay penerbangan. Selain itu, pola masyarakat yang selalu bertindak tanpa terpikir terlebih dahulu  juga memicu adanya konflik ini. Apabila penumpang membuka pintu belakang pesawat, bukan pintu darurat, maka mungkin mereka tidak akan dimarahi oleh petugas. Sebaliknya, bagi pihak Lion pun juga begitu. Jika pramugari memberi kejelasan pada penumpang dan tidak hanya memberikkan tissue pada penumpang saat penumpang protes, mungkin tidak akan terjadi pendobrakan pintu darurat pesawat.

            Ada gejala disorganisasi dalam konflik tersebut, terlihat dari adanya pertikaian dari penumpang dan pihak Lion Air. Pertikaian ini memicu adanya konflik antara kelompok dengan kelompok. Yaitu kelompok penumpang dan kelompok petugas. Kemungkinan terburuk dari adanya pertikaian ini adalah adanya penumpang yang membatalkan keberangkatannya dan tidak percaya lagi sepenuhnya pada Lion Air.

HAM adalah hak dasar yang dimiliki oleh seseorang sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa Hak Asasi Manusia dalam pengertian hukum, tidak dapat dipisahkan dari eksistensi pribadi manusia itu sendiri, bahkan tidak dapat dicabut oleh suatu kekuasaan atau oleh sebab-sebab lainnya, karena manusia dapat kehilangan martabatnya. HAM dalam definisi ajaran Gereja Katholik adalah hak-hak asasi merupakan hak yang universal, artinya hak-hak itu menyangkut semua orang, berlaku dan harus diberlakukan di mana-mana. Hal yang menunjang HAM antara lain penumpang diberikan pesawat pengganti yang lebih layak sesuai tujuan yaitu ke Jakarta meskipun penumpang harus menunggu selama 7 jam untuk pesawat pengganti itu. Sementara itu, hal yang tidak menunjang HAM yaitu tidak memperoleh kenyamanan menikmati fasilitas yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka telah membayar tiket untuk bisa menikmati fasilitas penerbangan yang ada. Baik dari pelayanan pramugari/pramugara, ketepatan keberangkatan, asuransi, dll. Namun nyatanya, penumpang tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari maskapai Lion Air. Penumpang telah menanyakan pada petugas, namun petugas tidak menanggapinya. Dalam UUD 1945 pasal 28F, dikatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh informasi, namun nyatanya, penumpang tidak mendapatkan informasi yang jelas. [3]

             Akibat dari adanya konflik ini, penumpang mengalami sesak napas dan penerbangannya tertunda. Saat mereka memprotes pun, mereka malah dimarahi oleh petugas karena mendobrak pintunya. Padahal, mendobrak pintu merupakan jalan alternatif saat itu. Mereka sudah memprotes pada petugas, tapi mereka malah diabaikan. Sementara, akibat bagi Lion Air, adalah hilangnya atau berkurangnya kepercayaan masyarakat dengan pesawat Lion Air. Lion Air kehilangan nama baik nya

Konflik keterlambatan penerbangan ini dikendalikan atau diatasi dengan cara konsilasi yaitu dengan cara keputusan yang diambil oleh pihak Lion Air, dengan menerbangkan para penumpang yang dikecewakan ini dengan pesawat yang lainya, tetapi tetap pesawat Lion Air.                                                

Pihak Lion Air sangat berperan dalam penyelesaian masalah ini. Keputusan untuk mengganti rugi dan menerbangkan para penumpang menuju tujuannya, yaitu Jakarta. Dalam masalah penerbangan ini, integrasi sosial terjadi. Pasti banyak orang yang berbeda ras, agama, dan budaya menaiki pesawat yang terlambat tersebut. Meskipun berbeda-beda, tapi mereka bersatu untuk memprotes, sampai mendobrak pintu darurat pesawat tersebut.  Hal yang mendorong integrasi dalam kasus ini adalah kesamaan tujuan dan kebutuhan. Para penumpang membutuhkan oksigen yang sama, para penumpang sama-sama kepanasan, jadi mereka bersatu karena kebutuhan yang sama.      Ada juga beberapa faktor yang menyebabkan integrasi sosial. Faktor-faktor tersebut ialah :

  1. Faktor Internal :
    1. Faktor individu
    2. Jiwa yang tidak berpikir dulu sebelum bertindak.
  2. Faktor Eksternal :
    1. Pemberian fasilitas yang tidak nyaman.
    2. Tidak ada konfirmasi dari pihak Lion.
    3. Tekanan waktu, kondisi saat itu yang panas menyebabkan sesak napas.

Kasus ini akan dikatakan adil, apabila penumpang sudah mendapatkan hak nya untuk terbang sesuai jadwal yang ditentukkan. Jika pihak Lion Air tahu bahwa AC pesawat Lion Air JT 775 rusak, harusnya mereka tidak menerbangkan pesawat tersebut dan tidak membiarkan penumpang dalam pesawat selama 1 jam, karena hal itu sangat fatal bagi penumpang. Udara di dalam pesawat menjadi minim, dan penumpang akan mengalami sesak napas. Masalah ini juga akan dikatakan adil apabila pihak Lion Air menerima amarah penumpang, dan menerbangkan penumpang ke Jakarta dalam waktu cepat, bukan malah membuat penumpang menunggu hingga 7 jam.

Direktur utama Lion Air, Edward Sirait menanggapi bahwa dia sangat menyayangkan, petugas tidak memeriksa posisi udara dalam kabin terlebih dahulu, seharusnya mereka memeriksa ada udara atau tidak dalam kabin. Atau mungkin ada cara lain untuk membuka pintu belakang sampai menguap baru memasukan penumpang”. Selain itu, pengamat penerbangan Alvin Lie juga menyayangkan kejadian tersebut.[4]

Keadilan yang ada di kejadian tersebut sesuai dengan teori keadilan menurut Prof Notonegoro dimana keadilan sesuai denga aturan hukum yang berlaku. Pihak Lion Air memberikan ganti rugi sebesar Rp 300.000 kepada penumpang sesuai yang diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 77 Tahun 2011. Sementara menurut  kami, dalam kasus ini juga terjadi ketidak adilan yang tidak sesuai dengan teori Thomas Hobbes dimana sesuatu dikatakan adil bila sesuai dengan perjanjian-perjanjian tertentu. Penumpang tidak mendapatkan haknya untuk berangkat tepat waktu sesuai dengan jam keberangkatan yang dijanjikan di dalam tiket.

Keterlambatan pesawat bukan hanya terjadi sekali di Indonesia. Armada nya pun bukan hanyak Lion Air, namun ada juga beberapa armada yang sering delay. Namun, kejadian AC mati dan penumpang sudah berada di dalam pesawat dirasa merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Hal ini tidak sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes dimana keadilan sesuai dengan perjanjian. Penumpang tidak mendapatkan apa yang telah dijanjikkan, sebaliknya mereka justru dirugikan baik dari segi waktu, tenaga,maupun materi.

 

Masalah Keterlambatan Penerbangan Pesawat

 Bab I

Pendahuluan

Pada zaman saat ini manusia sudah mulai terbiasa dengan keterlambatan. Manusia khususnya anak muda sudah sangat banyak terlambat dalam melakukan sesuatu, dan sudah mulai mempunyai banyak alasan dari keterlambatan tersebut.                                                          

Keterlambatan sudah umum di masyarakat. Sebut saja terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kerja, terlambat pergi ke acara, terlambat keberangkatan kereta, terlambat penerbangan, dan masih banyak lagi.                                                                                                        

Banyak sekali kasus-kasus keterlambatan yang menyebabkan suatu acara, kegiatan, maupun jadwal tidak berjalan dengan baik. Contoh kasus adalah PSSI terlambat membayar gaji Matias Ibo, seorang physiotheraphist skuad Garuda. Contoh kasus lain adalah keterlambatan pihak Persebaya Surabaya membayar gaji pemainya. Contoh lain adalah di tahun 2011 , ada 58 keterlambatan kasus pembayaran THR di Indonesia.                                       

Mengapa keterlambatan ini menjadi penting untuk di bahas? Karena keterlambatan dapat menyebabkan banyak hal. Misalnya keterlambatan pembayaran gaji pemain bola, dapat membuat pemain bola sengsara. Sebut saya Camara, seorang penyerang dari Persis Solo, beliau meninggal dunia di Indonesia, karena sakit parah ,dan tidak memiliki uang untuk berobat. Gaji Camara juga terlambat dibayar selama beberapa bulan.                                               

Keterlambatan yang parah akan menyebabkan kematian, kesengsaraan, dan penyiksaan dari orang yang terkait. Anak yang terlambat tumbuh, pasti akan merugikan saat besarnya nanti. Keterlambatan seorang anak untuk sekolah, akan menyebabkan dirinya banyak masalah pada saat kedepanya nanti.                                                                                      

Kasus yang kami angkat adalah kasus keterlambatan penerbangan pesawat Lion Air selama 4 jam, dimana AC pesawat tersebut mati, dan sudah ada penumpang di dalam pesawat itu.                                                                                                                                                     

Penerbangan yang sebenarnya direncanakan adalah pukul 09.45 WITA, tetapi terlambat 4 jam menjadi pukul 13.00 WITA. Lamanya keterlambatan ini sangat disayangkan oleh beberapa pihak.                                                                                                                          

Lebih parahnya lagi ada 180 orang penumpang di dalam pesawat itu, dan AC yang ada di dalam pesawat Lion Air tidak dingin. Banyak pihak yang mengatakan AC pesawat rusak,  atau mati. Semua sama saja, AC pesawat Lion Air panas.                                                            

Peristiwa ini menyebabkan para penumpang mendobrak pintu darurat pesawat tersebut untuk mendapatkan udara. Para penumpang beralasan, jika pintu tidak dibuka, kandungan oksigen dalam pesawat akan habis, dan menyebabkan kematian.                             

Penyebab secara umum, mengapa pesawat bisa terlambat terbang adalah , bandara tujuan tidak dapat digunakan untuk operasional pesawat, gangguan fungsi lingkungan, terjadi antrian pesawat yang hendak lepas landas, maupun mendarat, dan pengisian bahan bakar yang terlambat.                                                                                                                         

Ada pula penyebab kasus keterlambatan yang sangat merugikan pihak Lion Air ini. Kelalaian Lion Air tidak melakukan mengisi pendinginan (Charging pendingin) dan pihak bandara sudah memperingatkan pihak Lion Air, namun ditolak dengan alasan untuk mengirit. Selain itu, sehari sebelum insiden ini, pihak Lion Air sudah mengetahui bahwa sistem Ground Power pesawat ini rusak, sudah diperingatkan oleh pihak bandara, akan tetapi tetap memaksa untuk terbang.